psikologi remaja - pergaulan merusak generasi kota Raja Udang

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan pertemanannya.

Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Free sex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang.  Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para remaja. Tindakan kenakalan remaja sangat beranekaragam dan bervariasi dan lebih terbatas jika dibandingkan tindakan kriminal orang dewasa. Juga motivasi para remaja sering lebih sederhana dan mudah dipahami misalnya : pencurian yang dilakukan oleh seorang remaja, hanya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang disukainya dengan maksud untuk membuat kesan impresif yang baik atau mengagumkan.

Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.

Tidak terkecuali didaerah yang masih menengah kebawah yang bisa disebut “setengah kota” seperti halnya daerah pesisir ini, di dalam makalah ini kami mencoba mengulas semua permasalah yang terjadi pada remaja maupun anak-anak di usia dini di wilayah pesisir laut kepetingan ini.

1.2 Rumusan Masalah

·         Apa pengertian remaja?

·         Bagaimana perkembangan psikologi remaja?

·         Apa macam-macam kenakalan remaja ?

·         Apa penyebab kenakalan remaja?

·         Bagaimana solusi untuk mengatasi kenakalan remaja?

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      SOSIAL WILAYAH

Daerah yang dikelilingi oleh tambak dan hanya berjarak sekitar 2/5 kilometer dari bibir laut kepetingan ini memang sungguh ironis, seakan zaman telah merubah bentuk anak pedesaan yang lugu dengan berbagai adat istiadatnya dengan berbagai gaya modern ala perkotaan besar, bukan hanya dari pakaian, pergaulan, bahakan makanan dan minumpun ikut serta.

Daerah yang memiliki Koordinat: 7°25'46"S   112°44'57"E ini memang sedikit maju dibandingkan daerah lainnya, potensi ekonomi yang mendukung serta dekat sekali dengan perkotaan merubah daerah yang berjuluk “Raja Udang” ini menjadi desanya kota, dilain pihak berbagai macam tempat rekreasi yang memberikan berbagai macam fasilitas khas desa pesisir juga mendukung berkembangnya ekonomi desa ini.

Prasung nama desa yang dulu termashur dengan keaneka ragaman hasil ikannya yang merubah mindset remaja-remaja untuk tidak lagi memperdulikan masa depannya, menganggap masa depan mudah untuk dilalui dan berfikir masa remaja merupakan masa kesenangan dan kebebasan, kini seiring berjalannya waktu dan semakin tuanya sosok remaja desa menjadikan banyaknya pengguran yang tidak dapat lagi bekerja dengan kendala “ijazah” ditambah dengan persoalan banyaknya pabrik-pabrik yang berdiri megah di kawasan Lingkar Timur membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup para petani tambak, peribumi yang dulu Berjaya kini hanya bisa gigit jari lantaran di monopoli oleh perusahan yang mengakibat banyaknya pengguran dan tidak bisanya bekerja di perusahaan yang berdiri di tanah miliknya dulu.

Orang tua yang dulu mengaggap gampang masa depan pada masa mudanya dulu kini hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi, akibat yang paling buruk dari itu semua adalah anak-anak putus sekolah karena tidak lagi memiliki “biaya” disebabkan orang tuanya tidak lagi memiliki penghasilan.

Putus sekolah merupakan hal yang sangat fatal bagi remaja, kurangnya pendidikan, tidak adanya kegiatan, dan hanya menghabiskan waktu dengan “cangkrukan” menimbulkan dampak negative yang tinggi bagi psikologi remaja, yang pada akhirnya terjerumus pada jurang “pailit” dan menutupinya dengan mencuri dan merampok.

Tidak heran jika pemuda-pemuda daerah mantan “Raja Udang” ini hampir 85% sudah masuk dalam daftar buku besar kepolisian, bahkan telah menjadi peta merah di berbagai POLSEK di wilayah Sidoarjo, bukannya selesai sampai disitu saja, meski telah menjadi ikon buruk bagi Sidoarjo, para pemuda semakin enggan lagi untuk merubah berbagai macam permasalah yang terjadi pada wilayahnya.

Meski ada beberapa pemuda yang ingin sekali mengajak kebaikan dan membenarkan yang telah terlajur buruk tersebut, namun tidak adanya respon dari pemuda-pemudi ini menjadi kendala yang berat bagi pahlawan-pahlawan yang sadar akan kemajuan desanya, dan tidak sedikit juga yang menyerah untuk merubah mindset aktif yang terlanjur masuk dan mendarah daging di dalam diri pemuda-pemuda desa ini.

Semakin banyak pemuda-pemuda yang mengikuti alur yang tidak benar, hal ini menjadikan masyarakat sekitar semakain menggap hal tersebut “sudah biasa” dan wajar jika dilakukan oleh anak muda, hal ini menjadikan tingkah laku anak muda desa semakin meraja lela, tidak sedikit anak SD putus sekolah hanya karena terbius oleh kebebasan yang telah dimiliki kakak-kakaknya, tidak lagi anak SMP yang mengkonsumsi minuman keras, narkoba dan semacamnya karna mengaggap hal itu “dewasa” dan gaul, serta anak SMA yang tidak dapat mengontrol hawa nafsu dan sifat-sifat hewaninya.

B.      Pandangan Psikologi Terhadap Remaja

Sudut Pandang remaja secara psikologi adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih, putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang senang dialami remaja. Oleh karena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja.

Keadaan emosi pada masa remaja masih labil karena erat dengan keadaan hormon. Suatu saat remaja dapat sedih sekali, dilain waktu dapat marah sekali. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang realistis. Kestabilan emosi remaja dikarenakan tuntutan orang tua dan masyarakat yang akhirnya mendorong remaja untuk menyesuaikan diri dengan situasi dirinnya yang baru. Hal tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (1990), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosial remaja. Bertambahnya ketegangan emosional yang disebabkan remaja harus membuat penyesuaian terhadap harapan masyarakat yang berlainan dengan dirinya.

Menurut Mappiare (dalam Hurlock, 1990) remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima pendapat dan perintah orang lain, remaja menanyakan alasan mengapa sesuatu perintah dianjurkan atau dilarag, remaja tidak mudah diyakinkan tanpa jalan pemikiran yang logis. Dengan perkembangan psikologis pada remaja, terjadi kekuatan mental, peningkatan kemampuan daya fikir, kemampuan mengingat dan memahami, serta terjadi peningkatan keberanian dalam mengemukakan pendapat.

C.      Kenakalan Remaja Menurut Ahli Psikologi

            Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa.

Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :

ü  Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.

ü  Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.

ü  Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.

            Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.

            Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.

            Perilaku yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya.

BAB III

KESIMPULAN

Dalam pembahasan diatas telah dibahas bagaimana terjadinya kenakalan pada remaja dan sebab-sebab apa yang terjadi pada remaja tersebut sehingga menjadikan dirinya bersikap demikian adanya, pada dasarnya Remaja memang menginginkan suatu kebebasan yang hakiki sifat dasar seorang manusia dalam menentukan pilihan hidupnya nanti, namun terdapat lemahnya keinginan dalam diri untuk menggapai suatu mimpi akan menjadikan diri remaja terombang ambing dalam kehidupan, jika hal tersebut ditambah dengan pergaulan yang merusak maka remaja yang seharusnya dapat menyesaikan misinya untuk mencapai cita-cita tersebut hanyalah menjadi “hayalan” saja.

Remaja yang tidak bisa memilih pergaulannya hanya akan membawa dampak buruk bagi dirinya, remaja tanpa ada tuntunan dan kesadaran diri hanya akan membunuh semua impiannya, hal itu lah yang menjadi pegangan hidup bagi seorang remaja, karena remaja adalah masa penentuan  dirinya untuk menjadi orang sukses dengan tujuan yang jelas atau hanya orang yang penuh dengan kebingungan, remaja merupakan bekal untuk masa tua, jika dimasa remaja bergelimang dengan kesenangan maka dihari tua hanya bisa meyesalinya, jika dimasa remaja dia berusaha untuk meraih semua mimpinya maka di hari tua tidak lagi bersusah payah.